Petang akhirnya menginjak bumi.
Sebuah telfon yang tak kunjung mengerik.
Lalu mendiami rindu dengan betah.
Acuh bilamana terpukau, sepatutnya harus.
Bak sembunyi di punggung jam.
Paham detik-detik tak karuan.
Mengembarinya? Tidak, ini persis lagi.
Karena betah mendengarnya.
Detik mengawali rindu.
Detik menempati ruang sesak.
Dengan ringkik telfon, tepat waktu.
Mendapati senyum, menguras malam.
~anmh~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar