Petang akhirnya menginjak bumi.
Sebuah telfon yang tak kunjung mengerik.
Lalu mendiami rindu dengan betah.
Acuh bilamana terpukau, sepatutnya harus.
Bak sembunyi di punggung jam.
Paham detik-detik tak karuan.
Mengembarinya? Tidak, ini persis lagi.
Karena betah mendengarnya.
Detik mengawali rindu.
Detik menempati ruang sesak.
Dengan ringkik telfon, tepat waktu.
Mendapati senyum, menguras malam.
~anmh~
Kamis, 24 Januari 2019
Selasa, 22 Januari 2019
Tepat tengah malam.
Tetap sama.
Takut.
Ragu.
Menyedihkan.
Hingga uluran tangannya membuat goyah.
Kejujuran apa yang tengah ku suguhkan?
Kepercayaan apa yang tengah ku berikan?
Kesakitan apa yang rela kuberikan?
Lalu dia membungkamku.
Dengan 1000x cinta yang ia berikan.
Dengan 180° perbedaan yang dia miliki.
Lalu dengan 100% kesamaan yang kita miliki.
Katanya " sekarang bisa bahagia." Tanpa ragu.
Dan tertegun.
Dibuatnya ku mengerti.
Kapan terakhir kuukir senyum ini?
Dengan siap. meraih ulurannya.
Dan siap menggenggamnya. Always. May.
~anmh~
Minggu, 20 Januari 2019
Assalamualaikum
Seutas senyum yang ditawarkan
oleh separuh januari
waktu yang tepat
sedang langit mengerut
pada peristiwa yang penuh duka
andai awan memberi isyarat
hujan akan menggenggam
disandingnya langit
tanpa duka menyelip
tanpa risau pelangi akan hadir setelahnya.
~anmh~
oleh separuh januari
waktu yang tepat
sedang langit mengerut
pada peristiwa yang penuh duka
andai awan memberi isyarat
hujan akan menggenggam
disandingnya langit
tanpa duka menyelip
tanpa risau pelangi akan hadir setelahnya.
~anmh~
Langganan:
Postingan (Atom)